Cerita Instagram
Imaji

Instagram dan Pertemananku

Panggil aku Mila. Jangan tanya nama lengkapnya, sebab si empunya cerita belum memutuskan nama panjang yang cocok. Maunya sih Jesica Mila, tapi sayang bisa berabe jika dikait-kaitkan dengan selebritis Indonesia.

Aku gadis biasa, menikmati waktu luang dengan leluasa. Kebayang kan, banyaknya waktu kosongku saat ini, aku bisa rebahan di kamar kos sambil stalking instasories teman-temanku. Oh ya lebih asyik lagi jika itu Instagram selebritis lokal dan mancanegara.

Itu baru sepertiga waktu dalam sehariku. Selebihnya, aku sibuk mencari tahu kelemahan orang-orang dekatku. Mencari tahu apa saja kegiatannya. Kalau-kalau aku diajak bercengkerama, maka aku akan punya bahan obrolan gitu. Maklum, dua puluh empat jam waktuku ini aku harus mengisinya dengan berbagai kegiatan. Hitung-hitung biar update. Yah minimal semua itu didukung oleh internet gratis. Sejauh ini masih itu yang bisa kuceritakan.

Temanku untuk berkeluh kesah ada beberapa orang. Saat ini yang bisa aku bagikan ceritanya ialah Maya. Teman super ceriwis banget soal media sosial. Ini bisa dimaklumin, karena selama ini dia jarang sekali menggunakan media sosial. Oh, bukan jarang tapi tidak mempunyai akun Instagram pribadi. Padahal dia belum tau saja betapa enak dan addictnya aplikasi ini. Maya hanya menggunakan WhatsApp. Ini juga butuh perjuangan. Bayangkan, saat aku menyarankan Maya pakai aplikasi ini dia cuma bilang, “kan masih bisa sms atau telepon. Kenapa sih harus ngikutin tren padahal kita tidak terlalu butuh. Aku tidak membutuhkan aplikasi berbagi pesan itu.” Lihat kan, begitu responnya. Aku sebagai orang terdekatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ini usia boleh muda, tapi pikiran orangtua sekali. Masih primitif, apa yah bahasanya konvensional.

Maya mau menggunakan WhatsApp setahun terakhir ini. Padahal WhatsApp sudah rilis sejak 10 tahun yang lalu. Bahkan, menurut databoks.katadata.co.id, whatsapp menjadi aplikasi pengirim pesan paling populer di dunia per April 2019. “Kenaikan itu bisa saja karena Maya juga mau menggunakan aplikasi tersebut,” sempat terpikir saat melihat data tersebut.

Saat ini aku lagi suka godain Maya untuk pakai Instagram.

“May, ayolah pakai Instagram. Seru loh, masa yang posting foto kita aku doang. Kalau foto berdua atau ramean kan bisa langsung di tag ke orangnya. Kalau sama kamu itu susah ngetagnya” “Aku kan bukan baju yang digantung di mall loh Mil. Masa main tag tag gitu harus punya akun, kan bisa kamu bilang nama aku di ketengan foto. Itulah artinya ada caption, bukan sekadar buat kata motivasi yang entah darimana itu,” begitulah respon Maya jika aku mulai meracuninya.

Aku anggap awalnya ini aneh. Anak ini yah tidak pakai instagram tapi tahu banyak tentang instagram itu sendiri. Lihat saja setiap kata-kata yang ia ucapkan seolah-olah pengguna yang sudah lama berkecimpung menggunakan medium ini. bahkan ni ya, dia lebih tahu banyak dari aku yang setiap hari online. Lihat gossip artis dan feedku yang lucu-lucu itu. Tapi menurutnya tidak selucu yang ada dibayanganku. Semua itu terjadi karena dari awal aku sudah diracuni oleh gambar yang sama setiap hari. Jadi secara otomatis otakku merespon demikian.

Kejadian paling menyebalkan ialah seminggu lalu. Saat itu aku lagi buka instagram. Aku mulai scroll foto-foto kebaya gitu. Lalu Maya bertanya, “Mil, nggak bosan apa lihat foto-foto kebaya itu? Coba cari bacaan lain deh, kamu pasti suka,” sebut Maya sambil mengambil hape dari tanganku. Jarinya mulai mengetik nama instagram di pencarian.

Maya ini yah, sudah tau aku paling malas baca masih juga nyodorin beginian dan harus dibaca. Hah, malas banget kan. Pertama kali lihat akun tersebut aku bingung. “Pasti akun motivasi atau ceramah deh,” begitu yang terlintas dibenakku.

Maya kan paling senang ngasih nasehat. Jadi karena dia males untuk memberikan kata bijak setiap harinya pada ku, jadi akan disarankan membaca itu.

“Sudah baca belum Mil,” Maya bertanya sambil menunjukkan laman pencarian gitu.

Di layar hapeku tampak gambar yang menunjukkan data dari NapoleonCat.com. yang mana pada November 2019 terdapat lebih dari 61 juta atau 22,6 persen dari total populasi. Bahkan jumlah ini lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Pulau Sumatera yaitu cuma 58,46 juta jiwa.

Trus Maya langsung celetuk, “lihat nih Mil, jumlah mayoritas 23 juta itu usianya antara 18-24 tahun. Itu adalah orang-orang dengan masa yang seharusnya produktif. Kalau mereka menggunakan untuk jualan, kampanye sosial itu baik. Tapi coba di review lagi, explore di instagram mu Mil berapa persen yang positifnya?

“Kebayangkan, padahal aplikasi itu baru rilis 9 tahun lalu,” celoteh Maya lagi. Ibarat manusia masih di bangku SD. Berapa persen orang Indonesia yang pakai aplikasi berbagi foto itu.

“Tapi kan May, salah satu faktornya itu banyak orang yang pakai akun fake,” sebutku menimpali data-data yang disampaikan itu.

“Iya, pakai akun fake. Tapi berasa nggak sih, jadi media sosial itu jadi kayak tempat pembuangan sampah?”

“Gini deh Mil, kamu berapa kali posting foto di Instagram dan foto apa yang kamu posting,” tanya Maya padaku.

“Pertanyaanmu lumayan rumit ya May,” jawabku ketus. Maklum, teman aku ini kalau sudah ngrobrolin tentang media sosial mudah sensi. Tentu saja ini bukan tanpa alasan.

Ini hasil didikan dari ibunya yang bekerja pada sebuah agensi periklanan. Beruntungnya dia, meski tidak menggunakan Instagram tapi dipercaya oleh orangtuanya untuk mengelola media sosial perusahaan. Bukan tanpa alasan, ibunya sudah memberikan banyak sekali arahan. Bahkan hal tersebut terjadi sebelum aku membuat akun media sosial yang diminati oleh anak muda ini. Kalau menurut pikiran singkatku ini, dia mungkin bosan dengan semua kesibukan di media sosial itu sendiri. Kecepatan dan mengejar popularitas?

Pernah aku bertanya padanya, “May, kan sudah bisa mengelola akun perusahaan atau professional kenapa tidak membuat akun pribadi ya.”

Jawabannya gimana coba. Dia cuma bilang, “males euy, yang muncul foto selfie—tampak muka mulu dan pamer.”

“Tapi kan kita bisa pilih siapa saja yang ingin kita follow,” jawabku lagi menyakinkan.

“Itu kan menurutmu.” Kebayang kan berapa persen konten sampah di Instagram itu? Kalau aku buat akun, ini belum nemu mau posting sampah atau konten yang positif. Ntar ya kalau sudah menemukan ide, akan kukasih tahu samamu.#

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *