Pempek di Jambi
Jambi

Pempek, Makanan Olahan Ikan Ini Berhasil Membuat Aku Penasaran dan Mencari Tempat Baru

Tahun lalu saat pertama kali tiba di Jambi, kesan pertama saat pertama kali di Jambi ialah makanan pempek yang dijajahkan dimana-mana. Ada bapak-bapak yang berjualan pakai sepeda motor, ada yang jualan buka warung.

Setelah hampir setahun mulai tergiur dan mencari makanan olahan ikan ini. Jujur saja, selama aku tinggal di Pekanbaru tidak mencari tahu makanan khas yang terkenal dari Palembang ini. Hampir 10 tahun di Pekanbaru, makan pempek bisa dihitung dengan jari, dan tidak ada kesan yang mendalam.

Dulunya pasti dibawain oleh-oleh dari teman yang kuliah di Palembang dan sesekali membelikan untuk titipan keluarga di kampung. Saking jarangnya, aku ingin membeli makanan pempek bertanya dulu sama teman-teman yang pernah makan pempek, “Pempek yang enak jualnya dimana?” Sebab ini adalah titipan untuk keluarga. Sesekali akan membeli juga dengan dalih penasaran, selanjutnya tidak ada mencari-cari lagi.

Lebaran kemarin, teman kos ku yang orang Palembang kutodong untuk bawa pempek langsung dari sana. Penasaran akan pempek ini juga dari dia. Namanya Huma, yang sedari kecil sudah tinggal di Palembang. Huma suka cerita, kebiasan keluarganya yang suka sekali dengan pempek. Bahkan pempek biasa jadi sarapan, makan siang dan malam juga. Saat ada tamu, pempek juga dihidangkan. Aku sampai kaget dan bilang, “kok semua makanannya pempek ya?”

Hal ini memang biasa menurutnya, apalagi olahan pempek ini sangat beragam. Karena sudah sering diceritakan akan bahan dan cara pengolahan pempek ini maka kami makin sering mencari tempat makan yang jual pempek di Kota Jambi.

Kami memilih tempat makan pempek atas rekomendasinya di daerah Thehok. Karena aku percaya hanya orang yang ngerti tahu dimana tempat yang enaknya. Lebih serunya lagi, selama kami makan bahkan dijelaskan kalau makan pempek cukanya diaduk-aduk dulu, karena bumbu-bumbunya biar tercampur. Untuk ditempat jualan biasanya cuka sudah tersedia di meja dalam wadah yang bisa dituang sesuka hati.

Selain cuko—penyebutan cuka bagi orang Palembang dan Jambi, setiap bahan baku dan bentuk mpek mpek nya juga berbeda seperti:

  1. Pempek lenjer dengan bentuknya yang panjang sekitar 15 sentimeter dengan diameter 4 sentimeter.
  2. Pempek kapal selam, proses merebusnya saat baru dimasukkan akan tenggelam, setelah mengapung tandanya sudah matang. Bentuknya agak bulat dan mengembung karena berisi telur ayam atau bebek utuh.
  3. Pempek adaan, biasanya disebut pempek bulat. Cara membuatnya agak berbeda karena langsung digoreng dahulu tanpa harus direbus. Adonannya juga ditambah santan dan bawang sehingga aromanya wangi dan gurih.
  4. Pempek kulit, dengan adonan dengan tambahan kulit ikan yang sudah dihancurkan. Meski dari kulit ikan, rasanya enak. Bahkan temanku rekomendasi pempek kulit sebagai favoritnya. Setelah nyobain, aku juga suka dengan pempek kulit karena lebih cruncy setelah digoreng.

Selama setahun di Jambi, aku sering banget disuguhi makanan dari olahan ikan. Bahkan teman-teman kerja juga sering membawa pempek. Lebaran kemarin saat berkunjung ketempat teman-teman lainnya selalu disuguhi pempek. Meski suasana lebaran dengan kue-kue mentega, olahan ikan pempek selalu ada. Ini bisa juga request dari teman-teman yang mau datang.

Akhir-akhir ini setelah mulai terbiasa dengan pempek tersebut, aku juga mulai memasukkan pempek sebagai pilihan makan siang atau makan malam. Diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan, karena selama di Jambi olahan ikan banyak diminati oleh warga lokal dan pendatang. Olahan ikan seperti pempek yang terakhir bahkan ada namanya pempek sambal, pempek digoreng lalu disambal seperti biasa. Ada juga pempek dengan isian pepaya mentah diparut lalu ditumis dengan ebi ini disebut pempek kates atau pistel. Biasanya jenis pempek ini dijajahkan dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Biasanya dari kantor-kantor atau rumah-rumah.

Selain pempek olahan ikan lainnya ialah tekwan. Jika pempek makannya dengan cuko, maka tekwan dimakan dengan kuah panas yang dicampur dengan mi putih atau mie indomie. Rasanya makin nikmat saat hujan-hujan atau cuaca dingin. Tempat jual tekwan juga masih ditempat yang sama dengan penjual pempeknya. Selama disini juga sering lihat bapak-bapak jual tekwan dengan gerobak dorong baik siang hari atau malam hari.

Olahan pangan lokal dari ikan awalnya aku mengira hanya dari Palembang saja. Namun setelah melihat langsung, Jambi juga terkenal dengan pangan lokal seperti pempek ini. Tidak heran, di Kota Jambi kaya akan hasil ikan dari Sungai Batangharinya. Olahan ikan seperti pempek ini bisa ditemui pada pagi, siang dan malam.

Cukup menarik perhatianku, jika ditempatku biasanya yang dijual pakai gerobak bahkan sampai membuka warung nasi goreng dan mie goreng. Aku jarang bahkan hampir tidak pernah menemukan pempek dijual seperti itu ditempaku.#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *