Kota baru Jambi
Bilik Cerita

Pengalaman Bulan Pertama di Jambi, di Panggil Yu hingga Nyasar di Kota Baru

Tidak ada dalam daftar rencana atau impian, bahkan tidak pernah terpikir olehku sebelumnya kalau akan stay di Jambi. Pertengahan September ini aku telah sebulan di kota ini. Tentu saja, sebagai pendatang yang tinggal di tempat baru aku mengalami banyak pengalaman baru bantuan dari orang sekitar. Dua minggu lalu misalnya, aku disarankan pulang lewat jalan yang lebih dekat.

Jadi,  sebelumnya itu aku lewat jalan yang mutar atau terlalu jauh. Istilahnya keliling gitu. Jika dihitung pada jarak google maps bisa menghabiskan waktu 40 menitan. Saran yang diberikan aku hemat waktu 5 sampai 10 menitan. “Mba kok pulangnya lewat atas?” tanya salah seorang. “Iya, memang lewat atas, taunya cuma jalan itu dan disarankan oleh google maps,” jawabku.

Kabar baiknya aku sudah lewat jalan yang disarankan. Awalnya agak ragu untuk lewat daerah tersebut karena pernah nyasar di area yang sama. Dua hari setelah obrolan tersebut, aku coba lagi biar enggak penasaran. Dan sekarang aku lebih memilih lewat jalan tersebut. Memang lebih dekat dan poin plusnya jalannya lebih adem karena banyak pohon di tepi jalan.

Selama sebulan ini, selain cerita diatas, hal unik atau baru yang aku temui ada beberapa yang bisa kubagikan lewat tulisan ini. Barangkali kalian ada mengalami hal sama atau bahkan baru tahu sama sepertiku. Sekalian aku mau dokumentasikan tulisan ini, karena sekarang aku sudah mulai terbiasa dan menuju nyaman. Jika itu terjadi maka kemungkinan buruknya tidak akan ditulis deh. So, ini dia perbedaannya:

1. Sangket (Kantong Plastik)

Mulai terbiasa dengan kata sangket atau kantong plastik. Awal dengar aku berpikir itu apaan ya? Beberapa kali bahkan bertanya sangket apa? Seriusan, aku bahkan baru dengar kata ini. Tidak kebayang bahkan nama benda yang sering sekali digunakan tersebut semua orang menyebutnya sangket. Bahkan di pencarian halaman google sangket itu sejenis tanaman liar yang biasanya hidup di tembok-tembok, tepi sungai dan ladang petani.  

2. Yu (Mba atau Kak)

Sebelum pergi jalan atau keliling sendirian, kakak  sepupu ku sudah beri pesan kalau di panggil kemana yu itu maksudnya kayak mba atau kakak gitu. Jadi tidak perlu takut atau bingung. Tentu saja untuk diawal akan terasa aneh dan sekarang sudah mulai terbiasa. Setelah sebulan ini sudah menuju terbiasa dengan panggilan tersebut.

Menurut Wikipedia, Yu dapat mengacu pada kata panggilan atau singkatan dari mbakyu dari bahasa Jawa yang berarti kakak perempuan.

3. Nyasar di daerah Kota Baru

Bisa dibilang ini pengalaman paling tidak seru karena nyasar di saat kondisi sudah malam dan gerimis. Awalnya aku dari arah Kebun Handil Indah menuju arah Kenali Asam. Berbekal peta google maps dan sehari sebelumnya sudah lewat jalan tersebut tanpa ragu lagi aku lewat jalan yang sama.

Setelah seminggu ini aku baru sadar kenapa bisa nyasar karena saat itu salah arah dengan belok kiri di Bundaran Tugu Siginjai. Seharusnya lurus namun saat itu aku ambil belok kiri. Maka selama hampir 30 menit aku mutar-mutar di daerah Kota Baru dan lewat area Taman PKK selama 2 kali dan jalan lainnya yang bahkan aku baru lihat.

4. Penjual Empek-empek

Kalau kalian penyuka makanan dari ikan ini pasti happy karena bakal sering banget ketemu sama makanan ini. Ibaratnya jajajan gitu. Bahkan penjualnya pakai sepeda motor, pakai stainless kecil dibelakang.  Dijajakan mirip sala lauak dan godok bagulo di Pekanbaru gitu. Dijual dengan harga seribu rupiah. Pedagangnya bisa ditemui area keramaian seperti pasar, terminal dan tempat lainnya.

5. Naik Bus Trans Siginjai

Wuah, ini pengalaman paling bikin rugi. Sebagai orang baru, aku berpikirnya kalau naik bus trans pasti bakalan lebih murah dan nyaman. Istilanya ya, naik bus sejauh apapun kan pasti bakalan bayar sekali aja. Cukup ikutin rute bus dan tidak perlu bayar tiket lagi saat bus kembali. Awal naik bus aku ditanya dong mau kemana, jadi kujawab, “mau jalan-jalan aja.” Lalu aku disarankan oleh petugas busnya naik bus ke arah Sengeti.

Mengikuti saran petugasnya mungkin ide yang bagus. Lalu tidak begitu lama, aku transit di area dekat gubernuran. Lebih tepatnya ini bukan transit ya. Karena saat naik bus tersebut aku disuruh bayar lagi untuk satu tiket sebesar 5 ribu rupiah. Awalnya pas ditanya oleh petugas, aku mengeluarkan tiket bus yang pertama tadi, tapi ternyata itu tidak berlaku. Setelah memberikan uang tiket, aku diberi tiket baru. “Oh, bayar lagi,” pikirku.

Niat hati mau jalan-jalan, ternyata arah Sengeti ini adalah jalan lintas gitu atau area luar kota. Mirip Pekanbaru Kampar gitu. Saat dijalan melewati daerah perbatasan kota, kok aku pernah lewat jalan ini ya. Aku kan baru 2 atau 3 hari, perasaan belum ada keluar-keluar. Setelah tersadar, jalan tersebut kulewati saat naik bus menuju Jambi. “Pantas saja tidak asing ini tempatnya. Ngapain aku ke daerah sini, kan aku mau keliling kota, bukan ke luar kota. Hm, nampaknya salah minta saran.”

Karena sudah naik dan tujuannya hanya jalan-jalan jadi hanya bisa menikmati jalanan saja. Hampir satu jam kami sampai di rute terakhir. Semua penumpang turun. Petugas bus bertanya mau kemana, “mau balik ketempat tadi,” jawabku. Petugas menyarankan aku naik bus yang ada di depan bus yang kunaiki tadi. Itu busnya nanti pukul 11 berangkat, kalau ini masih lama. Jadi busnya berangkat pakai waktu.

Pukul 11 siang tepat bus langsung berangkat. Petugas bus tersebut meminta uang sebesar 5 ribu lagi untuk tiket keberangkatan. Selama naik bus tersebut aku penasaran kok bayar mulu ya. Apa setiap naik bakalan bayar, tidak ada istilah transit gitu? Setelah aku bayar sebanyak 3 kali, lalu aku memutuskan tidak naik bus lagi hari itu. Rasanya lebih baik jalan-jalan ke satu tempat.

Begitulah pengalaman selama sebulan yang bisa kubagikan di blog ini. Ada beberapa eksperiens yang menarik juga namun dari semua itu pengalaman diatas sudah mewakili perasaan penasaran yang ingin berkeliling kota, makanan dan budaya (panggilan).

Sebelum berangkat ke Jambi aku memang sengaja tidak ada ekspektasi apa-apa tentang Kota Jambi. Tidak ada mencai tahu tahu di google atau lainnya. Kalau kalian punya pengalaman lainnya di Jambi boleh di share dikolom komentar ya! Pasti seru deh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *