Bilik Cerita

Pengalaman Kerja Kasual di Restoran

Sabtu malam menjadi sangat seru jika diisi dengan kegiatan bermanfaat atau mencoba sesuatu yang baru. Dengan semangat new experince aku memutuskan untuk kerja casual pada salah satu restoran di Mall Fokal Point Medan.

Tanggal 6 April, bertepatan aku berada di Medan, baru pulang dari Merek, Tanah Karo. Aku ditawari oleh Erika—Sepupu yang bekerja di Medan untuk bekerja satu malam di restoran. Dengan pertimbangan pengalaman baru dan belajar untuk bertemu orang-orang baru aku mengiyakan ajakan tersebut. Sore hari aku sudah mulai bersiap-siap, lengkap dengan seragam putih hitam dan sepatu hitam polos. Pukul setengah 7 aku tiba di restoran. Aku belum terlambat, sisa waktu masih setengah jam. Pertama masuk aku langsung dikenalin dengan salah satu waitres, lalu diberi sedikit arahan tentang pekerjaan.

Sebelumnya aku ke loker untuk menyimpan tas dan menyiapkan diri. Jujur saja sebagai orang baru, aku mengalami kebingungan karena belum pernah melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan makanan dan pelayanan. Sesekali aku bertanya apa saja yang harus dilakukan, karena kondisi saat itu masih sepi pengunjung. Satu jam dua jam berlalu, aku masih kikuk, bingung harus melakukan apa saja. Tapi beberapa karyawannya menjelaskan dan langsung memberi contoh. Seperti Ali, pegawai baru paling sering membantu menjelaskan dan mengajak untuk ikut serta bekerja. Dia ajak aku berkeliling disekitar restoran, menunjukkan apa saja yang harus dilakukan. Ada gelas kosong boleh langsung diambil. “Ada sampah ambil saja, tentu dengan adanya permisi dengan tamu,” jelas Ali. Aku tidak ingat Ali berapa kali mengajariku dengan memberi penjelasan singkat dan contoh darinya, mulai dari cara mengambil asbak rokok yang berisi, cara mengganti dan bagaimana posisi tangan saat saat memegang nampan. Dari semua karywan disana, dia yang paling sering memberi penjelasan. Kalau menurut Erika karena dia merasakan bagaimana jadi orang baru yang bekerja, rasa bingung selalu ada. Benar saja, tiap dia memberi penjelasan, dia selalu tanya, “masih bingung?”

Selama bekerja selama 7 jam disana, perkataan Ali yang menyakinkanku ialah memang bingung tapi santai saja anggap rumah sendiri. Kalau ada yang kotor dibersihkan, sampahnya diambil. Puntung rokok satu batang dan abu rokok dilantai itu bisa langsung disapu. Boleh permisi dengan orangnyaatau jika takut diam saja. Kata-kata tersebut yang buat aku makin percaya diri untuk melakukannya supaya tidak bingung terus.

Kesibukan mulai pukul 10 malam, aku sudah mulai terbiasa. Hal tersebut didukung dengan keramahan pegawai disana, bahkan aku merasa nyaman walaupun hanya baru bertemu dalam hitungan jam. Bukan cuma Ali yang sibuk membantu, sesekali karywan lain menunjukkan dan menjelaskan secara perlahan. Senyum dan semangat mereka tularkan membuat aku nyaman dan melakukan pekerjaan tanpa ada rasa malu.

Alasanku menerima pekerjaan ini adalah aku pernah dengar bahwa bekerja adalah ibadah. Dan jangan pernah menganggap rendah pada pekerjaan orang lain, apapun jenis pekerjaannya. Selama bekerja aku banyak melihat aktivitas orang saat nongkrong atau untuk menghibur diri. Bagaimana mereka mengontrol dirinya tetap bisa berjalan bahkan pulang saat dalam kondisi mabuk. Dunia malam yang selalu dipandang negatif tidak kutemukan disana, hampir semua pengunjung yang datang asyik bercengkrama dengan teman-temannya.

Pekerjaan ini aku baru mendengar saat di Medan, sebelumnya aku belum pernah bertemu orang atau menyebutkan kerja kasual. Ternyata kasual ini pekerja lepas atau freelance yang biasa terdengar di masyarakat. Namun sedikit berbeda, karena pegawai kasual hanya bekerja saat dibutuhkan, hanya saat kondisi ramai maka pekerja dipanggil dan dibayar harian. Biasanya yang membutuhkan pekerja kasual itu restoran, hotel atau event-event besar. Nah, restoran tempat aku kerja tersebut hanya membutuhkan pegawai kasual saat malam minggu. Dikutip dari portal berita liputan6.com, survei cKinsey Global Institute pada 8000 responden di Eropa dan Amerika Serikat, ditemukan dari sejumlah 162 juta angkatan kerja, 20-30 persen populasi usia produktif pernah terlibat dalam proyek freelance.

Meski secara demografi tersebar, para pekerja lepas itu secara umum bisa dibagi ke dalam 4 tipe yaitu, Free Agents—mereka yang dengan sadar memilih untuk menjadi pekerja lepas dan sepenuhnya menggantungkan pemasukan dari situ. Kedua, Casual Earners—ereka yang melakukan pekerja lepasan untuk mendapatkan pemasukan tambahan, namun hanya sebagai sampingan saja. Ketiga, The Reluctants—mereka yang menggantungkan hidup dari pekerjaan lepasan, tetapi sebenarnya ingin menjadi pekerja kantoran. Terakhir, The Financially Strapped—mereka yang melakukan pekerjaan tambahan karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan.

Kategori dua yang pertama: free agents dan casual earners, yang memang melakukan pekerjaan lepasan karena pilihan, dilaporkan memiliki kepuasan lebih terhadap kariernya dibandingkan mereka yang menjalani pekerjaan lepasan karena terpaksa (the reluctants dan the financially strapped).

Selain itu, kategori free agents jika dibandingkan dengan para pekerja kantoran mengaku mendapatkan kepuasaan yang jauh lebih tinggi, dalam beberapa dimensi. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak orang yang menghargai aspek lain di luar faktor keuangan. Faktor fleksibilitas, di mana orang bisa bekerja menurut waktu yang mereka tentukan, salah satunya.#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *