Bilik Cerita

Sugito Berjalan Kaki Kedua Kalinya

Ransel hitam dipunggungnya diikatkan bendera merah putih, dan bendera yang bertulisan revolusi mental. Kakinya melangkah ikuti arah Jalan raya lintas Sumatra, Sugito namanya. Petani karet dari Padang Sidempuan Desa Batu Godang ini berjalan kaki dari desanya. “Untuk revolusi mental,” ujarnya saat ditanyai, Selasa (27/1). Baju putih berkerah hitam itu lekat pada badannya sekitar pukul 12 siang lewat.

Sugito berangkat dari kampungnya 8 hari yang lalu, ia berjalan sendiri dengan sendal jepit putih hitamnya. “Mau ngarah ke Pekanbaru,” paparnya. Sebelumnya ia juga sudah pernah lakukan jalan kaki. “Butuh waktu sebulan 20 hari tiba di istana negara,” jelasnya sambil tujukkan dokumentasi perjalanan sebelumnya, tepatnya Agustus tahun lalu. Sambil bercerita ia katakan disana tidak bisa langsung ketemu dengan presiden. Sugito dapat kabar dari sekretariat negara untuk ngantri, namun karena lama ia putuskan pulang. 

Tiba di Padang Sidempuan dengan biaya dari relawan yang ada disana. “Saya belum menyampaikan apapun hanya fotocopy dokumen perjalanan yang pertama ini ke sekretariat negara dilengkapi foto-fotonya. Mereka katakan pada saya ngantri nunggu, dan tidak tahu kapan di panggil maka saya menindaklanjutinya lagi,” papar Sugito. Akhirnya ia minta izin lagi ke Medan, pada gubernur Sumatra Utara.

Sugito berjalan lagi, kedua kalinya. “Saya mau berjalan arah Pekanbaru,” jelasnya saat bertemu di perbatasan Tapanuli Selatan dan Riau, tepatnya dekat Pabrik Sawit PT Kus tersebut. Di Pekanbaru, Sugito bermohon pada pemerintah daerah setempat fasilitasi hingga ke Jakarta. “Guna untuk sampaikan dokumen perjalanan saya yang kedua,” tukasnya.

Ayah enam anak tersebut ingin sampaikan agar presiden Indonesia terfokus pada blusukannya, yang dicanangkan sebelum jadi presiden. “Saya rela berjalan kaki untuk memenuhi nazar saya sekaligus tuntutan revolusi mentalnya itu,” tutur Sugito. Ia katakan sudah jalankan program blusukan presiden, dengan jalan kaki ke daerah dan minta tanda tangan daerah yang dilaluinya. Ia juga datangi dan minta tanda tangan Polres, Ketua DPRD Sumatra Utara, camat sebelum berangkat.

Laki-laki yang duduk di tepi jalan sambil ngobrol itu ingin sampaikan banyak hal. “Kalau bisa jumpa syukur alhamdulillah,” ujar Sugito dengan nada pasrah. Ia bercerita bahwa di Sumatra Utara, Tapanuli Selatan khususnya jarang ada jalan yang bagus. Apalagi jalan dari Aek Godang menuju Ujung Batu Sosa, beberapa kilometer yang Sugito lewati hancur semua. “Nantinya minta perhatian pada pak presiden, ngajak blusukan karena itu adalah janji dia,” paparnya.

Selain program blusukannya, Sugito ingin ungkapkan masalah desanya yang tidak tercantum pada peta kabupaten. “Kalau kecamatan mengakui, tapi sebatas pengakuan,” ujar laki-laki berumur 49 tahun tersebut. Namun untuk membangun jalan hanya ada niat tertentu, misalnya pemilihan calon legislatif, dan dibangun dari dalam bukan dari luar.

Desa Batu Godang tidak jauh hanya berkisar 1,5 km dari jalan raya atau jalan besar. Bisa dikatakan dikepung oleh perusahaan PTPN III. “Barangkali mereka ada terselubung dengan mereka,” tukasnya. “Diatasnya lagi ada tambang emas yang akan dikelola saat ini. Sudah mulai bekerja, tinggal ngambil emasnya lagi. Yang jelas mereka tidak pernah berpartisipasi dengan warga,” tambahnya.
Tambang emas jaraknya sekitar 5 kilometer dari Desa Batu Godang. Jika ditempuh dengan berjalan kaki butuh waktu satu jam setengah. “Dampaknya sudah tentu ke masyarakat,” ujar Sugito. Sudah digali, dan pertapakan mereka buat bor. Ada 7 titik bor dengan kedalaman 500 meter.

Desa Batu Godang capai 2 ribu kepala keluarga, namun belum diakui desanya. Masyarakatnya pada umumnya bertani karet, hasilkan 40 ton seminggu dari sana. Namun tidak adanya pabrik. Tidak hanya itu desa sebelahnya diakui bahkan lebih maju. “Desa kami sudah tertua, tapi kebanyakan orang tidak tahu, dan masyarakat tahunya Desa Batu Godang ada di Tanggiling.

“Keluarga saya awalnya tidak mendukung, akhirnya kasih penjelasan dan mereka bisa mengerti,” tutupnya. #

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *