Travel Pekanbaru Dalu-dalu Pulang Pergi
Tips

Travel Pekanbaru Dalu-dalu Pulang Pergi Setiap Hari

Natal pulang kampung? Pertanyaan ini sering aku dengar menjelang akhir tahun begini. Bukan tanpa alasan, sebagai anak rantau pulang kampung sudah seperti kewajiban terkhusus saat momen natal dan tahun baru. Bahkan, pulang bisa dua kali dalam setahun bahkan lebih.

Setelah memilih untuk pulang, transportasi pulang yang jadi kebutuhan. Transportasi ini macam-macam, kalau ke kampung ku, cukup naik kendaraan darat. Bisa menggunakan sepeda motor, mobil, superband yang biasa nongrong di simpang Panam). Jika memiliki uang lebih dan menikmati pesawat, dari Pekanbaru ada penerbangan menuju Pasir Pangarayan. “katanya kalau ada pesawat ke kampung kita, berarti tempat itu cukup maju,” itu menurut obrolan lalu lalang ya.

Sampai Pasir Pangarayan mencari transportasi darat lagi menuju rumah. Jika naik sepeda motor dengan kecepatan saya membawa maka membutuhkan waktu setengah jam lebih. Ini tidak disarankan, karena mahal dan agak ribet ya. Selain biaya lebih, perjalanan ke kampung ku lebih enak menggunakan transportasi darat. Menikmati pemandangan sawit, anggap saja pelepah sawit dan tandan-tandan yang bergelantungan itu hanya bisa ditemukan saat ke Riau. Kalau istilah orang Pekanbaru menyambut tamunya dari luar Riau. Sudah dimana? “Nggak tau, ini dari tadi lihat sawit saja.” Orang Pekanbaru akan bilang begini, “oh sudah dekat Pekanbaru itu.”

Bukan cuma sawit yang berjejer itu yang tampak, jika lewat Petapahan maka melintasi pipa-pipa minyak di beberapa pinggir jalan. Jangan heran jika pipa tersebut dibuat jemuran bagi warga sekitar. Secara pasti aku tidak tahu karena bukan warga sekitar sana, dan tentu belum pernah tanya serius.

Perjalanan dari Pekanbaru ke kampung biasanya menghabiskan waktu sekitar 5 sampai 6 jam. Akses jalan ada dua pilihan, pertama lewat Petapahan—lebih cepat namun mobil superband jarang sekali lewat sini. Kedua, melintasi jalanan Bangkinang. Lebih ramai, karena berbagi dengan kendaraan yang melintas menuju Sumatra Barat. Jalanan lebih terawat, namun ramai penggunanya.

Kenapa kampungnya bukan di daerah Sumatera Utara? Sebenarnya saya lahirnya di Kisaran masuk desa namanya Silaumaraja. Sejak sekolah dasar, orangtua mengadu nasib di Bondar. Itu nama kampungnya ya. Saya pun kaget, karena dalam bahasa batak bondar itu parit. Itu loh sungai kecil untuk aliran air membasahi sawah yang akan dibajak.

Bondar itu nama kampung. Karena penduduknya sudah banyak, nama tempat tinggal kami sudah ada namanya yaitu Barisan Tapian Nauli atau BTN. Secara historis saya tidak terlalu mengikuti, tapi yang saya dengar sebab area tempat tinggal disana rumah berderet-deret seperti perumahan gitu.

Kampung saya masih masuk wilayah Provinsi Riau. Hingga saat ini masih kecamatan Tambusai dan Kabupaten Rokan Hulu—menurut info yang saya dengar akan ada pemekaran. Doakan semoga terwujud ya. Lokasinya berdekatan dengan Tapanuli Selatan. Mungkin sekitar 2 kilometer kali ya sudah melewati perbatasan tersebut.

Aku tidak tahu, apa karena jarak yang terlalu jauh atau memang tidak ada penumpang yang naik. Setiap pulang naik superband itu selalu tidak lewat kampungku. Paling banter dituruni di Dalu-dalu. Dari sana harus naik angkot—jika ada atau minta dijemput. Ini repot sekali. Selama ini aku sudah beberapa kali naik mobil yang berbeda-beda. Maklum, sudah 10 tahun lebih merantau di Pekanbaru ini. Biasanya, dimintain kontak travel hingga mengantar orang teman ke loketnya. Dalam tulisan ini, aku bagikan angkutan umum yang pernah aku gunakan ya dan pengalaman yang tidak boleh kalian alami juga:

PT. Barumun 0812-7007-8822

Transportasi yang satu ini sudah sering digunakan oleh orang-orang di kampung saya. Maklum, sudah cukup lama beroperasi dan namaya sudah umum terdengar ditelinga. Bahkan menjadi rekomendasi saat pulang dan pergi. Loket mobil ini beralamat di Jalan di Jalan Soekarno Hatta atau dekat Masjid Ikhlas persimpangan antara Jalan Arifin Ahmad. Update terakhir, mobil yang beroperasi dalam sehari beragam. Bisa tiga hingga lima kali dalam sehari, semua itu tergantung pada banyaknya penumpang. Jika ingin cepat sampai, bisa berangkat pagi sekitar pukul 9-10 pagi. Yang harus diingat ini bisa molor, karena tidak setiap hari ada penumpang yang ingin berangkat pagi. Dalam beberapa kejadian, biasanya keberangkatan pagi di undur pada pukul 2 siang. Setelahnya ada berangkat pukul 4 sore, dan malam di pukul 9 atau 10. Mobil yang digunakan ini bervariasi, ada yang model jetbus—minibus. Saya pernah naik ini saat perjalanan malam. Yang lain itu mobil dengan merek seperti ertiga atau merek lainnya. Untuk harga sekarang dipatok Rp. 130 ribu—ini perjalanan Pekanbaru ke kampung ku ya.

Alam : 0821-7228-2739

Travel ini masih baru kukenal. Pengguna yang menyarankan ialah namboruku (kakak dari bapakku). Meski baru, adikku sudah pernah menggunakan jasanya. Untuk rate harga lebih murah 10 ribu dari pertama, yaitu Rp. 120 ribu. Menurutku ya ini lebih ramah dari pelayanan pertama. Dulu yang pertama ramah, sekarang sudah mulai kurang sih. (Ini penilaian pribadi ya). Travel ini juga mau menjemput dan mengantar penumpang ke alamat. Yang disayangkan ialah, salam sehari hanya sekali keberangkatan. Dari Pekanbaru berangkat pukul 11 siang, kalau dari kampung itu pukul 7 pagi.

Rudi 0813-7197-3949 dan Taufik 0823-8735-1116

Mereka ini bisa dibilang yang paling lama aku kenal mau antar jemput alamat. Dulu mereka barengan, tapi kini sudah menggunakan mobil yang berbeda. Bentuk mobilnya itu superband, dan ongkosnya lebih murah dari kedua diatas. Biasanya dipatok harga Rp. 80 ribu lebih. Mereka biasanya berangkat dari Pekanbaru pukul 5 hingga 6 pagi. Dalam sehari cuma sekali, dan kadang tidak nambang. Maka untuk mengetahuinya ialah dengan menelpon langsung dengan kontak mereka.

Superband Biasa

Aku menyebutnya superband biasa ini adalah mobil-mobil yang nongkrong di area simpang Panam ujung. Menunggu penumpang yang turun dari mobil, motor hingga angkot. Dari pagi hingga malam mereka sudah disana untuk menunggu calon penumpang mana yang bersedia naik mobilnya. Saat baru merantau, aku dulu pulang selalu ke Panam. Mencari mobil superband arah dalu-dalu. Banyak memang mobilnya, supir, kernet, atau calo—atau apalah namanya itu yang sering menarik barang calon penumpangnya meski masih diatas motor. Sialnya, sebagai anak baru merantau pasti mau saja ikut seperti yang diarahkan mereka.

Kalau direnung-renung dulu sering apes naik superband ini. Kalau berangkat siang dari Pekanbaru, bisa sampai malam di rumah. Ini belum termasuk jika penumpang perempuan yang sisa itu aku. Disuruh duduk di depan duduk samping supir, eh taunya itu kernet duduk disampang. Habislah, aku duduk diantara mereka. Aku jadi was-was, sebab saat itu sudah pukul 7 malam. Jalanan sudah tidak seramai siang hari. Belum lagi, penumpang satu lagi yang dbelakang supir hanya duduk diam tanpa ada respon. Beruntung saya aman, meski sepanjang perjalanan khawatir. Belum lagi sok akrab minta nomor hape.

Oh ya, naik superband ini termasuk lama karena selain menaik dan menurunkan penumpang, itu lebih sial jika kamu di opor-opor. Yah, mirip-mirip ngoper bola, dari satu mobil ke mobil lainnya. Perjalanan akan lebih memobosakan. Terbayang kala itu, baru sejam perjalanan tiba di Bangkinang sudah disuruh pindah ke mobil lain. Lalu sejam atau dua jam  kemudian disarankan pindah. Pindah begitu karena penumpang sisa satu atau tiga. Maka, daripada cuma mengantar yang sedikit ini, lebih baik pindahkan pada mobil lain yang rutenya lebih jauh. Sesial-sialnya aku, pernah 5 kali di oper. Padahal bola voli saja maksimal 3 kali ya.

Mobil yang nongkrong di area simpang Panam itu memang setiap hari ada. Tulisan ini juga saya buat agar teman-teman yang ingin ke kampung tidak mengalami kesialan itu. Yah, minimal kau tanyalah teman yang tinggal di Pekanbaru kan.#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *